Banyumas Raya

Begini Lafal Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

21
×

Begini Lafal Niat Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Sebarkan artikel ini
Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

TAHUN 2021 ini, masyarakat Indonesia kembali tidak bisa menjalankan Ibadah haji lantaran pandemi Covid-19. Meski demikian, sebagai seorang muslim, kita tetap disunahkan untuk melaksanakan puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.

Hari Tarwiyah adalah hari ke-8 bulan Dzulhijjah. Disebut tarwiyah karena waktu itu udara sangat melimpah. Sementara hari ke-9 Dzulhijjah dinamakan Hari Arafah, karena pada hari itu diperlukan untuk jamaah haji untuk wukuf di Arafah. Sementara puasa Arafah hanya disunnahkan bagi yang tidak berhaji.

Hal tersebut tertuang dalam sebuah hadits:

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lepas” (HR Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnun Najar)

Niat puasa Tarwiyah dan Arafah adalah sebagai berikut.

نويتُ صومَ تَرْوِيَة سُنّةً لله تعالى

Nawaitu Shouma Tarwiyata Sunnatallillahi ta’ala
Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.“

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

Nawaitu Shouma ‘Arofata Sunnatallillahi ta’ala
Saya niat puasa Arafah, sunnah karena Allah ta’ala.

Menurut Madzhab Syafi’i, puasa wajib dan puasa sunnah itu berbeda. Pada puasa wajib, kita diharuskan untuk memasang niat puasa pada malam hari. Sedangkan pada puasa sunnah seperti puasa tarwiyah, pada 8 Dzulhijjah, kita tidak diwajibkan memasang niat puasa pada malam hari.

Kita dapat memasang niat puasa tarwiyah 8 Dzulhijjah pada siang hari, dengan catatan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau melakukan hubungan suami istri.

Baca Juga : Melihat ‘Keistimewaan’ Guru

Bagi mazhab Syafi’i, seseorang boleh berpuasa sunnah tarwiyah atau puasa sunnah apa saja dengan memasang niat pada siang hari, sejauh belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Pandangan mazhab Syafi’i ini didasarkan pada hadits riwayat Muslim dari ummul mukminin Sayyidah Aisyah RA sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

Artinya, “Dari Aisyah, ummul mukminin RA, ia bercerita, ‘Suatu hari Nabi Muhammad SAW menemuiku. Ia berkata, ‘Apakah kamu memiliki sesuatu (yang dapat kumakan)?’ Kami jawab, ‘Tidak.’ ‘Kalau begitu aku puasa saja,’ kata Nabi. Tetapi pada hari lain, Rasul pernah menemui kami. Kami katakan kepadanya, ‘Ya rasul, kami memiliki hais, makanan terbuat dari kurma dan tepung, yang dihadiahkan oleh orang.’ ‘Perlihatkan kepadaku meski aku sejak pagi berpuasa,’ kata Nabi. Ia lalu memakannya,’” (HR Muslim).