Opini

Penyakit Batin Orang Berilmu Menurut Al Ghazali

46
×

Penyakit Batin Orang Berilmu Menurut Al Ghazali

Sebarkan artikel ini

Al Ghazali, sang Hujjatul Islam, dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa setan menggoda manusia sesuai dengan level keimanan dan keilmuan manusia tersebut. Semakin tinggi iman dan ilmu seseorang, setan akan semakin menggoda orang tersebut dengan cara yang lebih halus dan lebih samar.

Kita pasti sering menemui orang yang banyak beribadah dan memiliki banyak pengetahuan agama, kemudian dianggap sebagai tokoh agama di daerahnya. Namun, ia abai terhadap menyucikan hati dari berbagai penyakit batiniah, seperti ingin dipuji, ingin dihargai, ingin selalu didengar orang, dan ingin selalu dihormati orang sebagai ahli ibadah atau ahli agama.

Penyakit batiniah bukan hanya membuat amalnya tidak bernilai, melainkan juga merusak dirinya. Padahal, Islam ingin mewujudkan keseimbangan antara amalan lahir dan batin, ibadah yang banyak dan berkualitas serta kesucian hati. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupamu dan harta yang kamu miliki, tetapi Ia melihat kepada hati dan amalmu.”

Selain berasal dari dorongan dalam diri seorang ahli ibadah tersebut, penyakit batiniah ini juga diperkuat dengan pengakuan sosial yang diberikan oleh masyarakat. Tentu kita sering melihat fenomena seseorang yang mempunyai kedudukan sosial lebih tinggi di masyarakat sebagai tokoh agama.

Penghormatan masyarakat umum kepada seorang ahli ibadah dan ahli agama ini paling mudah ditunjukkan dengan penyematan panggilan khusus. Misalnya ajengan, tuan guru, kyai, gus, ning, ustadz, ustadzah, atau habib.

Khusus untuk panggilan Habib, biasanya ini disematkan kepada seorang  keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Husain. Penyematan panggilan ini berdasarkan data silsilah yang dicatat dan diorganisir oleh organisasi Rabithah Alawiyah.

Selain penyematan berupa gelar tambahan yang ini memang khas kultur masyarakat kesukuan yang feodal, kita juga bisa menemui simbol–simbol berupa perilaku khusus yang dilakukan masyarakat kepada para tokoh agama ini.

Membungkukkan badan, mencium tangan, dan penyematan panggilan khusus kepada tokoh agama merupakan aneka simbol dalam aktifitas interaksi sosial. George Herbert Mead, seorang sosiolog dari Amerika, menyebutnya dengan interaksionisme simbolik.

Mead mengatakan bahwa orang sering menggunakan simbol berupa materi atau tingkah laku untuk membentuk orientasi diri mereka kepada orang lain dan mempengaruhi persepsi lingkungan.

Dengan memberikan penghormatan khusus kepada tokoh agama, masyarakat membangun persepsi dirinya pada posisi yang lebih rendah dan menempatkan mereka pada posisi yang lebih tinggi atau elit.

Jika kita sering mendengar kata elit politik yang artinya adalah kelompok khusus yang memiliki posisi tinggi dalam politik. Begitu pula dengan para tokoh agama, penulis menganggap kedua kelompok ini sebagai kelompok elit dalam bidang keagamaan.

Seringkali, persepsi elit ini tidak hanya disematkan kepada personalnya, tetapi juga seluruh anggota keluarga dari tokoh agama tersebut. Tentu kita sering menemui masyarakat memberikan penghormatan berupa panggilan atau perlakuan khusus kepada anggota keluarga seorang tokoh agama.

Penulis menyebut fenomena ini sebagai mistifikasi sosial, yaitu proses labelisasi terhadap sebuah objek dengan sifat yang spesial, khusus, dan seringkali irasional. Proses mistifikasi ini kemudian semakin kuat dengan menempatkan tokoh agama sebagai “Man of Glory”.

Memposisikan tokoh agama sebagai “Man of Glory”, seseorang dengan kemulyaan, membuat masyarakat memberikan penghormatan dan penghargaan yang tanpa syarat. Penghormatan dan penghargaan ini melampaui orang tua, saudara, teman, dan bahkan diri sendiri.

Mistifikasi sosial ini membuat tokoh agama berperan sebagai pribadi yang sakralistik-monolitik, merasa sebagai sumber pengetahuan keagamaan bagi masyarakat sekaligus menjalankan peran sebagai “polisi moral” dan tokoh “super body” dalam masyarakat.

Penulis sering mengamati beberapa perilaku masyarakat yang merupakan hasil dari persepsi mistifikasi. Misalnya, menyediakan tempat duduk untuk tokoh agama paling depan di setiap acara kemasyarakatan, meminta pertimbangan dan doa kepada tokoh agama ketika ingin melakukan sebuah aktifitas penting misalnya melanjutkan kuliah, melamar pekerjaan, atau  menikah.

Kedua hal tersebut, dianggap sebagai perilaku menghormati dan ngalap berkah kepada seorang tokoh agama. Tentu penulis tidak mengatakan itu adalah hal yang negatif, tapi perilaku mistifikasi sosial ini bisa terus bergeser dalam bentuk yang lebih ekstrim.

Tidak berani mengkritik tokoh agama karena takut dibilang kualat, tidak berani menanyakan sesuatu hal yang sensitif kepada tokoh agama karena khawatir dibilang tidak hormat atau ilmunya belum sampai, Selalu mengikuti apa perintah mereka dengan harapan mendapatkan berkah. Itu adalah beberapa contoh persepsi yang timbul di kalangan masyarakat akibat proses mistifikasi yang semakin kuat.

Meski fenomena mistifikasi ini bukanlah hal yang bisa digeneralisir dan pula tidak semua tokoh agama mengiyakan mistifikasi terhadap dirinya. Ada pula tokoh agama yang dengan rendah hati menyapa masyarakat, menjadikan dirinya tempat berkeluh kesah tanpa harus membuat masyarakat berjalan menunduk sambil mengangguk “nggeh Abah”. (*)

Tinggalkan Balasan