Opini

Ngurusi atau ‘Nguresi’ NU

23
×

Ngurusi atau ‘Nguresi’ NU

Sebarkan artikel ini
ALFIAN IHSAN
“Sopo kang gelem ngurusi NU, tak anggep santriku. Sopo kang dadi santriku, tak dongakno khusnul khotimah sak dzurriyahe”

Kalimat tersebut tentu bukan merupakan kalimat yang asing bagi warga NU. Ini merupakan sebuah wasiat dari Hadratus syaikh Hasyim Asy’ari yang disampaikan dari generasi ke generasi di kalangan warga NU.

Kalimat ini seringkali disampaikan dalam acara pelantikan pengurus NU di berbagai level. Juga biasa terdengar dalam acara pelatihan seperti PKPNU, MKNU, PKD Ansor atau Lakmud IPNU. Kita juga bisa menemui kalimat ini pada postingan akun – akun media sosial yang berafiliasi dengan NU.

Hanya saja, sesuatu yang luar biasa jika disampaikan atau dilakukan secara berulang dan terus menerus, akan menjadi sesuatu yang biasa saja. Begitu pula wasiat dari Hadratussyaikh ini, semakin sering warga NU mendengar wasiat ini malah mengurangi nilai yang ada dibalik wasiat beliau.

Masih sangat jarang ditemui pembahasan mengenai makna dan maksud dari wasiat Hadratussyaikh ini. Seolah kita semua menerimanya sebagai suatu hal yang taken for granted, menerima begitu saja tanpa perlu melakukan konseptualisasi dan interpretasi lebih lanjut.

“Sopo kang gelem ngurusi NU”, sepenggal kalimat ini jika ditanyakan kepada warga NU pasti akan memunculkan beragam penafsiran. “Ngurusi NU”, adalah sebuah kata kerja yang maksud dan maknanya tidak bisa kita tanyakan kepada penutur asalnya yaitu Hadratussyaikh.

Kata “Ngurusi NU” ini kemudian memunculkan banyak pemaknaan tergantung kepada siapa frasa ini ditanyakan. Bagi warga NU yang sedang menjabat kepengurusan, biasanya akan memaknai frasa “Ngurusi NU” dengan turut aktif dalam aktifitas organisasi.

“Ngurusi NU” bagi mereka adalah aktifitas menjalankan roda organisasi NU dengan serangkaian program kerja dan administrasi yang tertib. Hal ini dilakukan untuk menjaga eksistensi organisasi di level paling bawah hingga level nasional.

Meski jika diajukan pertanyaan lebih detail mengenai kerangka konseptual dalam “Ngurusi NU”, akan muncul beragam penafsiran. Konsepsi yang dimiliki oleh Pengurus Besar NU tentu akan berbeda dengan konsepsi yang dimiliki oleh pengurus MWC atau Ranting.

Baca Juga : Kader PMII Jangan Seperti Lilin

Apalagi jika pertanyaan diberikan pada kelompok muda NU seperti GP Ansor, IPNU/IPPNU, PMII atau KMNU. Biasanya konsepsi anak muda cenderung akan lebih luas, sedikit radikal, dan tidak melulu bergerak pada aspek keagamaan. Meski sebagian dari anak muda ini juga ada yang cenderung hanya berkutat pada aspek keagamaan.

Lalu bagaimana dengan warga NU yang tidak aktif dalam kepengurusan, apakah mereka tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari frasa “Ngurusi NU” ini?

Semenjak beberapa tahun terakhir ini kita diperkenalkan dengan istilah NU struktural dan NU kultural. Meski sebagian orang mengatakan bahwa dikotomi ini rentan mengakibatkan friksi diantara warga NU, tapi ini adalah wujud lain dari luasnya gerakan keagamaan NU.

Bagi warga NU yang kebetulan tidak aktif pada kepengurusan atau yang kini disebut dengan NU kultural, “Ngurusi NU” adalah sebuah aktifitas budaya keagamaan. Yaitu kecenderungan untuk tetap melestarikan nilai dan aktifitas keagamaan dalam lingkup masyarakat misalnya tahlilan, ziarah kubur, pembacaan maulid Diba’, dan tarawih 20 rakaat. Setidaknya beberapa aktifitas keagamaan ini bisa menjadi parameter apakah orang tersebut bagian dari warga NU atau bukan.

Selain NU struktural dan NU kultural, ada satu lagi irisan yang penting untuk kita gali pemaknaan mereka terhadap frasa “Ngurusi NU”. Irisan ini oleh sebagian orang disebut dengan NU Politik.

NU Politik adalah warga NU yang terjun dalam aktifitas politik praktis dengan memanfaatkan jalur partai Islam yang berafiliasi dengan NU, apalagi kalau bukan PKB dan PPP. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para politisi di partai ini berasal dari warga NU atau meng-NU-kan diri demi meraih simpati dan suara dari warga NU.

“Ngurusi NU”, sebuah kata yang sederhana namun memerlukan praksis yang tidak sederhana. Kenyataan bahwa NU sebagai Jam’iyah sekaligus Jamaah membuka banyak kemungkinan mengenai interpretasi dan konseptualisasi tentang “Ngurusi NU”.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi mempunyai cakupan aktifitas yang luas seperti pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan dan politik. Oleh karena itu frasa “Ngurusi NU” harus menjadi arus utama dalam perbincangan di kalangan warga NU untuk menemukan bentuk ideal dan berkelanjutan mengenai aktifitas mengurus NU sebagai sebuah organisasi dan juga sebagai perkumpulan masyarakat.

Tulisan ini diharapkan menjadi pemantik bagi kita semua untuk kembali merenungi dan mengambil posisi dalam aktifitas “Ngurusi NU”. Membincang bersama mengenai “Ngurusi NU” ini perlu dilakukan dengan melibatkan warga NU secara keseluruhan, baik struktural maupun kultural.

Hal ini sebagai refleksi atas apa yang sudah dilakukan selama ini, jangan – jangan ada orang yang merasa “Ngurusi NU” tapi pada kenyataanya hanya “Nguresi NU”. Tentu ini adalah sebuah parasit yang apabila dibiarkan akan menjadi penyakit dalam tubuh NU itu sendiri.

Saya akan menutup artikel ini dengan mengutip dhawuh K.H. Sahal Mahfudz “Neng NU iku urip-urip NU, ojo pisan-pisan golek urip neng NU”. Selamat berdikusi…

Tinggalkan Balasan