SastraSeni Budaya

Sedekah Pepohonan

26
×

Sedekah Pepohonan

Sebarkan artikel ini

Pagi itu Hakim senang sekali. Biji-biji mentimun yang ia tanam beberapa hari lalu bersama ayahnya di kebun samping rumahnya itu tampak mulai tumbuh. Ia jadi berharap mereka cepat berbuah agar dapat berbagi mentimun dengan teman-temannya. Maka saat melihat ayahnya mendekat sambil menyangking seember air, ia bertanya, “Ayah, kapan mereka berbuah?”

“Beberapa hari lagi, Nak, kan baru tumbuh. Nanti kalau sudah besar baru berbuah. Makanya Hakim harus rajin menyiraminya supaya cepat tumbuh besar…” jawab si ayah.

“Baiklah, sini biar aku saja…” Hakim mengambil gayung dari tangan ayahnya yang seketika tersenyum bangga melihat semangat di wajah anaknya itu.

Malam harinya, setelah salat Maghrib berjamaah di musala, sambil menunggu giliran satu per satu membaca Al-Qur’an, Hakim tampak semangat menceritakan pada teman-temannya tentang tanamannya dan mengajak mereka besok sore datang ke rumah untuk melihatnya.

Waktu setelah mengaji adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka. Karena itu adalah waktu Mbak Zakiyah, si guru ngaji, biasanya bercerita sambil menanti waktu salat Isya tiba. Mereka senang mendengar cerita para Nabi. Cerita yang penuh kebaikan menjadikan mereka senang berbuat kebaikan. Seperti yang diceritakan kemarin malam. Cerita tentang Nabi Musa yang diberi mukjizat oleh Gusti Allah Ta’ala berupa tongkat yang dapat membelah lautan untuk menyelamatkan beliau dan umatnya dari kejaran pasukan raja yang lalim.

Tapi kali ini, Mbak Zakiyah tak bercerita tentang Nabi. Ia mengajari mereka tentang sedekah jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir meski orang yang beramal tersebut telah meninggal dunia.

Mbak Zakiyah memberi contoh di antara sedekah jariyah adalah menanam pohon, karena banyak manfaatnya dalam kehidupan ini. Di antaranya untuk berteduh serta menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia dan binatang. Jadi selama pohon yang ditanam tetap hidup, si penanam terus mendapat pahala.

Baca Juga : Puasa Pertama Aqil (Bagian 1)

Demikianlah, kemudian terdengar suara adzan, mereka tampak bersiap-siap melaksnakan jama’ah salat Isya. Sementara itu, beberapa jarak dari musala itu, daun-daun mentimun telah tumbuh beberapa centi lagi.

***

Seiring hari-hari berlalu, pohon-pohon mentimun itu semakin tumbuh besar dan mulai memperlihatkan bunga berwarna kuning. Hakim semakin rajin merawat mereka bersama ayahnya. Adakalanya juga beberapa temannya datang membantu menyiraminya di sore hari.

Saat panen pun tiba. Hakim mengundang beberapa temannya untuk membantu memetiki buah-buah timun yang tampak segar itu. Setelah rampung memanen dan kemudian membagikan sebagian pada teman-temannya itu, Hakim merasa senang tak terkira.

Namun beberapa hari kemudian, seiring makin berkurangnya buah di pohon-pohon itu, daun-daunnya pun mulai terlihat mengering. Meski ia tetap rajin menyiraminya tetapi daun-daunnya tak sesegar dulu. Ia jadi gelisah, lalu bertanya pada ayahnya, “Ayah, apa yang terjadi pada mereka?”

Ayahnya menjawab bahwa umur pohon mentimun memang tidak lama, hanya sekali panen. Hakim tampak bertambah gundah, lalu bercerita perihal amal jariyah yang diajarkan oleh Mbak Zakiyah.

Ayahnya memahami apa yang dirasakannya, penuh kasih ia mengelus-elus kepalanya sambil berkata, “Besok kita menanam lagi, Nak…”

Keesokan harinya si ayah pulang membawa bibit pohon mangga. Hakim amat senang mendengar ayahnya berkata bahwa pohon ini bisa hidup selama berpuluh-puluh tahun.

Setelah membuat lubang di halaman rumah, ayahnya menyuruh Hakim memasukannya. Kemudian, saat mereka menimbun akar pohon itu dengan tanah, ayahnya berkata, “Semoga ini menjadi amal kita bersama, Nak…”

“Amin,” ucap mereka serentak penuh harap.

Doplangkarta, 00.14, 7/7/2020

Catatan: Cerita anak ini masuk 30 naskah terbaik Festival Menulis Cerita Anak Nasional Funbahasa Surabaya, Oktober 2020

Tinggalkan Balasan