Opini

Mudik Nggak Mudik, Tetap Asyik [Sebuah Refleksi]

51
×

Mudik Nggak Mudik, Tetap Asyik [Sebuah Refleksi]

Sebarkan artikel ini
Mudik Nggak Mudik Tetap Asyik

Di akhir bulan ramadhan biasanya ramai dengan momen masyarakat yang hendak mudik atau pulang kampung halaman. Berbagai macam persiapan dari masyarakat dalam menyambut mudik. Mulai dari menyiapkan keperluan transportasi, hingga hal-hal yang kecil seperti oleh-oleh pun dipersiapkan.

Itulah, sedekemian rupa masyarakat kita khususnya di Indonesia dalam menyiapkan keperluan untuk mudik. Karena jika bekal atau segala keperluan saat mudik sudah tercukupi, tentu mudik akan sangat menyenangkan dan asyik. Namun jika mudik tanpa bekal yg cukup, maka akan menjadi tidak asyik, apalagi saat ini pemerintah sedang memberlakukan aturan larangan mudik dikarenakan masih dalam masa pandemi covid-19.

‘Mudik’ jika kita renungkan secara tersirat ada dua macam. Pertama adalah mudik akhir bulan Ramadhan (puasa), menuju bulan bukan puasa. Kedua, yaitu akhir kehidupan kita di dunia hendak mudik menuju akhirat.

Menarik untuk kita bahas yang pertama yaitu mudik dari bulan puasa menuju selain bulan puasa. Seperti halnya dengan persiapan mudik, persiapan meninggalkan Ramadhan perlu kita renungkan. Apakah yang sudah kita lakukan selama Ramadhan, bekal apa yang kita siapkan, saat berpisah dengan ramadhan.

Sudahkan kita rutin menjalankan qiyamul lail? Sudah berapa juz dan mengkhatamkan Al Qur’an di bulan ini? Berapa banyak uang yang sdh kita sedekahkan di bulan ini?. Apakah puasa kita sudah benar-benar dilakukan dengan baik? Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis bersabda :

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu., Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 37 dan Muslim: 1266).

Jika semua pertanyaan di atas sudah kita lakukan dengan sebaik-baiknya, maka mudik kita asyik. Dari bulan puasa menuju bukan bulan puasa.Namun, jika jawaban nya adalah belum melaksanakan dengan baik, maka harapannya adalah tidak segera mudik dari bulan puasa tentu lebih mengasyikan.

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).

Lantas, bagaimana dengan ‘mudik’ dari dunia ke akhirat? Inilah hakikatnya mudik. Akhir pengembaraan di dunia dan harus diakhiri dengan mudik selama-lamanya menuju alam akhirat. Maka hendaknya setiap Muslim yang memperhatikan keselamatan dirinya benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini.

Baca Juga : Ninggal Katresnan Ing Ndalem Sih Kerinduan

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [al-Hasyr/59:18]

Sahabat yang mulia Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu yang telah mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal:

Hisablah (introspeksilah) dirimu saat ini, sebelum kamu dihisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat). Timbanglah dirimu saat ini, sebelum amal perbuatanmu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu menghadapi hari kiamat jika kamu mengintrospeksi dirimu saat ini; dan hiasilah dirimu dengan amal shaleh untuk menghadapi hari yang besar ketika manusia dihadapkan kepada Allah Ta’ala.

Senada dengan ucapan di atas, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menghampiri kita, dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini waktunya beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok di akhirat adalah saat perhitungan dan tidak ada waktu lagi untuk beramal”.

‘Mudik’ menuju akhirat tidak bisa diprediksi oleh si pemudik sendiri kapan tiba waktunya mudik. Hanya Allah SWT, yang Maha Berkehendak yang mengetahui. Tugas kita adalah mempersiapkan mudik yang entah kapan waktunya dengan sebaik-baiknya untuk mencari bekal menuju akhirat nanti yaitu berupa keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Allah SWT, berfirman dalam Al Qur’an ;

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”
(QS: Al-Baqarah ayat 197)

Selagi kesempatan mudik kita belum datang, itu akan menjadi sesuatu yang membahagiakan buat kita, masih ada kesempatan buat kita mencari bekal sebanyak-banyaknya. Justru tidak mudik tetap asyik, artinya bisa asyik diberi kesempatan umur oleh Allah SWT, untuk berbuat lebih baik.

8 Mei 2021 / 26 Ramadhan 1442 H
Lukman Hakim
MI Istiqomah Sambas Purbalingga

Respon (0)

Tinggalkan Balasan