Fragmen

Ternyata Mengurusi NU itu Menyehatkan

48
×

Ternyata Mengurusi NU itu Menyehatkan

Sebarkan artikel ini
Ternyata mengurusi NU itu menyehatkan

BERKOPIAH hitam, berbaju batik lengan panjang, dan bersandal selop agak kecoklatan. Suaranya masih lantang dan masih sarat dengan humor-humor berkualitas. Lelaki itu juga masih tampak bregas, padahal umurnya menjelang angka tujuh puluh tahun.

Jum’at sore itu, kami ngobrol berdua, setelah lama tidak bertemu. Saya bersyukur mendapatkan rejeki besar, kedatangan seorang guru ke rumah.

Terbayanglah perjuangan beliau di desa kami puluhan tahun lalu, yang sungguh luar biasa. Hidup di rumah dinas yang kecil, penghasilan pas-pasan sebagai seorang guru SD dengan empat anak yang masih memerlukan perawatan dan perlindungan super ekstra. Beliau juga masih sempat mengurusi anak mengaji, dan menjadi seksi kerohanian di beberapa organisasi desa yang ada.

Tigapuluh lima hari sekali waktu itu, saya senantiasa diajak untuk mengikuti kegiatan lailatul ijtima’ di tingkat kecamatan, sekaligus ikut menyimak Mbah Kyai Adnan membaca kitab fiqih Kasyifatussaja yang ditulis Syeh Nawawi al Bantani, ulama kita yang bermukim dan wafat di Mekkah.

Saya juga sering diajak silaturrahmi kepada pengurus MWC NU, untuk belajar bagaimana mengorganisir warga NU, saat orang-orang di desa kami takut menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Dari beliaulah saya banyak belajar tentang jam’iyyah yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari tersebut.

Desa yang kami tempati memang cukup berbeda dengan desa-desa lain, baik dari mata pencaharian penduduk, bentuk kepercayaan orang setempat, dan posisi sebagai desa wisata yang menjadi transit dari berbagai macam budaya, baik lokal, nasional maupun manca negara.

Saya ingat ketika ia dimarahi habis-habisan oleh aparat desa, karena beliau mencoba mengatur secara sistematis kegiatan keagamaan. Saya juga masih ingat, ketika listrik dan air di rumah yang beliau tempati dicabut oleh orang tertentu, hanya karena mengkoordinir anak-anak muda untuk terlibat dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri.

Saya juga tak lupa, ketika beliau dibenci oleh beberapa imam masjid dan musholla, serta dukun bayi, karena mengatur sistem zakat fithrah untuk tidak terkumpul di beberapa orang tertentu saja. Saya juga masih terbayang, saat rumah yang beliau diami dilempari batu, oleh orang tak dikenal, dampak dari dibacakannya hadits tentang shalat berjamaah, saat kuliah subuh di masjid desa.

Tak hanya sampai disitu, beliau juga sangat rajin mengkader anak-anak untuk percaya diri datang ke masjid, mengajari adzan dengan lagu-lagu yang menarik, membenarkan bacaan Qur’an, melatih menjadi imam dan khatib, pemulasaraan jenazah, seni Islami dan mensosialisasikan apa dan siapa mustahiq itu agar masyarakat luas lebih paham.

Lelaki itu sekarang masih sangat enerjik. Di tempat tinggal yang baru, di kabupaten sebelah, beliau terus berhidmat kepada NU. Dari pengurus ranting, naik ke MWC, bahkan ditarik juga ke Pengurus Cabang.

Dua periode menjadi ketua Tanfidziyah MWC, meng-inisiasi untuk membuat klinik NU sekaligus ngrumat gedung itu, mengoptimalkan LAZIZNU, dan bagaimana memberi modal cuma-cuma untuk pedagang kecil.

Saya terus terang sangat mengagumi sosok yang satu ini. Terlepas dari berbagai macam ujian hidup yang beliau alami, guru tangguh ini sangat menikmati hidup. Sehingga saya sempat bertanya apa resep beliau dalam menjalani hidupnya, karena sampai usia yang cukup panjang masih sehat, disaat orang-orang yang seumurnya banyak yang sedang berjuang melawan penyakit diabetes, darah tinggi, struk, prostat, sakit tulang dan yang lain sebagainya.

“Saya sampai saat ini, masih bergiat di urusan ke-NU-an. Ternyata mengurusi NU itu menyehatkan.” kata beliau.

Mendengar jawaban itu, hati ini merasa seperti baru disuntik dengan vitamin yang menjadikan imun tubuh menjadi lebih kuat. Karena ikut bergiat dengan warga Nahdliyyin, apalagi masuk dalam struktur kepengurusan, baik di tingkat Ranting maupun diatasnya, ternyata semakin hari, semakin banyak tantangan yang tidak ringan, dan itu semua harus dihadapi.

*) Ketua Tanfidziyah Ranting Ketenger Baturaden

Respon (0)

Tinggalkan Balasan